Selasa, 07 Februari 2012

Cara Membuat Penetas Telur

Cara Membuat Penetas Telur

Cara Membuat PenetasTelur ini sudah pernah sebelumnya kuajarkan kepada teman-temanku. Cara Membuat Penetas Telur ini nantinya akan menjadi salah satu materi dalam acara pembekalan dalam mengisi waktu luang. Kali ini aku sedang beristirahat di dalam selku. Udara di sini sangat dingin, untung saja ibuku bersedia membawakan aku sebuah selimut kain yang dibuatkan ibuku sendiri. Aku harus menunggu persidangan yang selanjutnya entahlah, aku hanya bisa pasrah. Kali ini aku lebih fokus dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah, aku ingin menunjukkan kepada dunia bahwa aku tidak bersalah. Salah seorang temanku yang ada di Singapore dan Malaysia bercerita bahwa kasusku ini sempat dibahas oleh salah satu stasiun televisi swasta di sana dan juga media cetak juga tidak mau ketinggalan. Percetakan mempunyai catatan sejarahnya sendiri. Sejarah menuliskan informasi tanggal dari gambar dinding gua yang berumur lebih dari 30.000 tahun. Pada tahun 2500 B.C., orang Mesir mengukir hieroglyphics pada batu. Akan tetapi, percetakan yang kita ketahui sekarang tidak ditemukan hingga lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu. Orang China membuat banyak penemuan. Mereka menemukan kertas di abad pertama dan moveable type yang terbuat dari tanah liat sekitar abad ke-11. 

Orang Korea pertama kali membuat moveable type dari perunggu pada pertengahan abad ke-13. Akan tetapi, tidak diketahui adanya hubungan antara penemuan awal orang Asia dan penemuan percetakan di Eropa pada abad ke-15. Di Eropa, sebelum percetakan ditemukan, semua informasi yang tercatat ditulis dengan tangan. Buku-buku dengan hati-hati disalin oleh ahli tulis (scribes) yang sering menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu jilid buku. Metode ini begitu lambat dan mahal dan hanya sedikit orang yang memilik kesempatan atau kemampuan untuk membaca karya yang telah selesai. Aku mengetahui sedikit materi tentang ini dari salah satu rekanku yang bekerja di perusahaan percetakan koran terbesar di Indonesia. Dia adalah rekanku saat kegiatan bakti sosial di  Aceh beberapa tahun yang lalu. Dia bernama Anwar, asalnya dari Jombang dan dia adalah seorang peternak lele di desanya. Tidak hanya lele, Anwar juga terkenal dengan keahliannya membaca Al-qur’an. Tak jarang dia pernah menjadi juara 1 lomba tartil di daerahnya. Kali ini dia sering menyambangiku di sel dan prihatin atas musibah yang menimpaku. aku teringat dengan cara membuat penetas telur. Dia mengatakan padaku, Allah memiliki rencana yang sangat indah saat aku bisa melewati semua ini. Aku mengamininya dan aku percaya itu. Aku dituduh atas kasus pembunuhan dan pembantaian yang terjadi di benteng yang letaknya sekitar hanya 2 kilo dari jarak tempat tinggalku. Benteng adalah bangunan untuk keperluan militer yang dibaut untuk keperluan pertahanan sewaktu dalam peperangan. Benteng sudah dibangun oleh umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu dalam berbagai bentuk dan pada akhirnya berkembang menjadi bentuk yang sangat kompleks.

Di Indonesia, benteng yang masih ada umumnya adalah tinggalan dari kolonialisme Eropa, terutama Belanda. Aku hanya bisa pasrah, saat aku melakukan pembelaan, mereka malah menyiksaku agar aku mengakui kesalahan yang tidak kulakukan. Dimana keadilan negeri ini! Keadilan itu seakan lenyap ditelan bumi. Aku hanya bisa berdoa agar yang memfitnahku segera mendapat balasan yang setimpal. Padahal aku tidak tahu menahu soal ini, aku hanyalah korban yang tidak tahu asal mulanya! Aku teringat dengan cara membuat penetas telur.